Ia aktif dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Malang (FKMM), salah satu wadah gerakan mahasiswa yang paling vokal di era tersebut. Di kalangan aktivis demonstran senior angkatan 1990-an, nama Rio Capella bukan nama asing. Namun yang membedakannya bukan hanya keberaniannya turun ke jalan, melainkan kejelasan arah perjuangannya: ia berpihak pada mereka yang paling lemah.
Salah satu perjuangan yang paling dikenangnya adalah pembelaan terhadap petani Cimacan, Puncak, yang lahannya hendak dipaksa dialihfungsikan menjadi lapangan golf. Bersama rekan-rekan aktivis, Rio Capella bolak-balik ke gedung DPR, membawa suara petani yang tak punya akses ke lorong-lorong kekuasaan. Ini bukan aksi simbolis, ini adalah advokasi konkret yang menuntut keberanian dan ketekunan di tengah iklim politik yang represif.







