Example 728x250
Opini

Rayagung, Ghadir, dan Ingatan yang Tidak Pernah Pergi

×

Rayagung, Ghadir, dan Ingatan yang Tidak Pernah Pergi

Sebarkan artikel ini
Abdul holik
Abdul Holik, Ketua KMNU dan Direktur Eksekutif WJI
Example 468x60
Abdul Holik, MA* | Alumni CRCS UGM

Di Tanah Sunda, Idul Adha sering disebut Rayagung. Di belahan dunia Islam yang lain, pada tanggal 18 Dzulhijjah atau sepuluh hari setelah Idul Adha sekelompok umat Islam memperingati apa yang mereka sebut al-‘Id al-A’zham: hari raya terbesar. Dua nama, dua tradisi, dua jalan yang berbeda. Namun keduanya berbagi satu kata yang sama: agung.

Baca Juga  Menjiwai Pancasila

Keunikan orang Sunda dalam menamakan hari raya cukup menarik. Idul Fitri mereka sebut Lebaran. Lebaran berasal dari kata lebar, lapang, terbuka. Idul Adha mereka sebut Rayagung. Bukan sekadar terjemahan, melainkan sebuah penafsiran kultural yang sudah berlangsung berabad-abad. Rayagung bukan hanya nama. Ia adalah cara masyarakat Sunda memaknai bahwa di antara semua hari raya, ada satu yang dianggap paling besar, paling agung.

Baca Juga  Harga BBM Non-Subsidi Akhirnya Naik, Alarm Bagi Rakyat

Pertanyaan dari mana keyakinan itu berasal? Mengapa Idul Adha, dan bukan Idul Fitri yang mendapat predikat “agung” dalam tradisi Sunda?

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *