Apakah predikat “agung” yang melekat pada Idul Adha dalam tradisi Sunda merupakan jejak samar dari pengaruh tradisi yang juga menyebut hari raya terbesarnya sebagai al-A’zham? Tidak ada bukti langsung yang dapat dikonfirmasi.
Hal yang lebih pasti adalah bahwa kata “agung” dalam berbagai bentuknya memiliki fungsi yang serupa di banyak tradisi: ia menandai yang paling sakral, yang paling bermakna, yang paling layak dirayakan dengan sungguh-sungguh. Bahwa orang Sunda menggunakan kata itu untuk Idul Adha, dan bahwa komunitas Syiah di seluruh dunia menggunakannya untuk Idul Ghadir, adalah dua ekspresi dari satu kecenderungan manusiawi yang universal yaitu kebutuhan untuk memberi nama pada yang dianggap paling besar.
Di Indonesia hari ini, komunitas Syiah adalah minoritas kecil yang tersebar di berbagai kota, hidup dalam jalinan sosial yang lebih luas bersama mayoritas Muslim Sunni. Peringatan Idul Ghadir mereka berlangsung dalam majelis-majelis yang lebih bersifat internal, jauh dari hiruk pikuk publik. Namun ia ada. Dan keberadaannya adalah bagian dari peta keberagaman Islam Indonesia yang selama ini lebih sering disederhanakan daripada dipahami.











