Rayagung dan Ghadir bukan dua hal yang sama. Keduanya lahir dari tradisi yang berbeda, dengan landasan teologi yang tidak identik. Tetapi dalam kata “agung” yang mereka bagi, ada sesuatu yang mengingatkan kita pada fakta sederhana namun sering terlupakan bahwa umat Islam selalu memiliki lebih dari satu cara untuk menyatakan bahwa ada hari-hari yang lebih besar dari hari-hari biasa; dan bahwa pilihan hari mana yang dianggap terbesar itu sendiri adalah cermin dari sejarah panjang yang belum selesai dibaca.
*Abdul Holik, MA adalah penulis dan pemerhati sejarah Islam Nusantara, tradisi keagamaan, dan media digital.











