Itulah bedanya. Itulah jaraknya dari di mana kita berdiri sekarang.
Paradoks Pancasila
Kita hidup di zaman yang aneh dalam relasinya dengan Pancasila. Ideologi Pancasila dibicarakan di mana-mana, dibela oleh banyak pihak, dilembagakan dengan serius oleh negara. Tapi bersamaan dengan itu, belum pernah juga nilai-nilainya terasa sejauh ini dari kehidupan sehari-hari.
Yang terjadi adalah paradoks yang menyakitkan: semakin keras Pancasila dikumandangkan, semakin ia terasa seperti baju yang dipakai di hari raya lalu disimpan kembali.
Generasi muda kita merasakan ini. Mereka tahu. Mereka melihat jarak antara yang diucapkan dan yang dijalankan. Ketika jarak itu terlalu lebar terlalu lama, yang mati bukan Pancasilanya, melainkan kepercayaan bahwa hidup bermartabat sesuai nilai itu mungkin tak bisa dilakukan di negeri ini.
Itulah kehilangan yang sesungguhnya. Bukan kehilangan teks. Kehilangan kepercayaan bahwa teks itu bisa menjadi nyata.











