Oleh Abdul Holik, MA
Ada pertanyaan yang selalu menghantui saya setiap kali dunia sedang berada di titik perubahan besar: apakah manusia benar-benar memilih sejarah, atau sejarahlah yang memilih manusia?
Saya belum menemukan jawabannya. Tapi melihat Xi Jinping dan Donald Trump duduk semeja di Beijing, saya merasakan bahwa kita semua, tanpa diminta, tanpa memilih, sedang menjadi bagian dari sebuah babak sejarah yang akan dibicarakan orang selama berabad-abad.
Sebelum membahas apa yang terjadi di Beijing, saya ingin mengajak Anda melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pertemuan dua kepala negara.
Amerika dan China bukan hanya dua negara yang bersaing. Mereka adalah dua cara berbeda dalam memahami dunia. Dua filsafat kekuasaan yang lahir dari sejarah, trauma, dan ambisi yang sama sekali berbeda.













