Sejarah Tidak Menunggu
Saya kembali pada pertanyaan di awal: apakah manusia memilih sejarah, atau sejarah yang memilih manusia?
Mungkin jawabannya adalah keduanya. Di zaman normal, manusia memilih sejarah. Di zaman krisis, sejarahlah yang memilih manusia.
Dan kita sedang berada di zaman krisis.
Pertemuan Xi–Trump di Beijing bukan akhir dari sebuah ketegangan. Ini adalah peresmian dari era persaingan yang akan berlangsung puluhan tahun. Era di mana kekuatan tidak lagi diukur dari banyaknya rudal, melainkan dari dalamnya jaringan teknologi, energi, keuangan, data, dan kepercayaan.
Yang akan bertahan bukan yang terkuat. Yang akan bertahan adalah yang paling cerdas dalam membangun jaringan, paling bijak dalam membaca perubahan, dan paling berani dalam mendefinisikan identitasnya sendiri di tengah tekanan dua peradaban yang saling mendominasi.
Sejarah sedang berjalan. Pertanyaannya hanya satu: apakah kita sedang berjalan bersamanya, atau sedang berdiri diam menontonnya berlalu?













